Hell.World.Heaven...

...and everything between

Hari ini saya main sama temen-temen saya….hari ini spesial soalnya Odie dateng bawa anaknya, Aksan. Aksannya udah gedeee, udah nggak di inkubator lagi. Saya duduk samping mereka, biar bisa pegang-pegang Aksan…soalnya kulitnya lembuuuttt. Terus akhirnya saya berhasil buat Aksan senyum dan ketawa. Saking senengnya sampe Nanda yang ketawa liat saya, hahah. Biarin ah.

Nah ditengah-tengah acara makan ini, orang-orang di samping saya heboh banget ngobrolnya, akhirnya saya ikutan. Ternyata lagi debat soal penting atau nggak penutupan jalan waktu pejabat lewat. Ada dua pihak nih, pihak pertama bilang boleh-boleh aja untuk urusan kenegaraan yang emang penting banget, bukan untuk urusan pribadi, dan kalo bisa nggak tiap hari. Biar ngerti yang namanya macet di Jakarta tuh separah apa. Pihak kedua bilang, justru perlu buat keamanan mereka, dan masalah penting nggak penting, bukan kita yang nentuin.

Debatnya masih baik-baik aja, sampe tiba-tiba melenceng jadi masalah perubahan.
Jadi pihak pertama ngasih argumentasi kalau itu salah satu bentuk usaha yang bisa diusahain, memaksa pemerintah untuk ngalamin sendiri yang namanya macet, supaya mereka punya tekanan untuk berbuat sesuatu. Karena kalo mereka nggak ngerasain, gimana mereka mau bersimpati sama rakyatnya? Lagian mereka dipilih kan untuk melayani rakyat, bukan sebaliknya. Pihak kedua bilang, nggak bisa begitu. Karena itu udah priviledgenya pemerintah. Masa iya mentri disuruh macet-macetan? Rapat-rapatnyanya apa kabar? Mereka kan ngurusin masalah se-Indonesia, produktivitas mereka nggak bisa diganggu sama hal-hal kaya macet. Masalah macet tuh butuh power besar, nggak bisa cuma dengan ngebiarin pejabat ikut-ikutan ngerasain macet.

Dari sini, pihak pertama nanya, kalo gitu gimana caranya mau merubah macetnya? Kalau masyarakat nggak mau berusaha, dan pejabatnya nggak mau berubah juga. Apalagi pihak kedua bilang kalau dia jadi mentri pun, dia ga mau priveledge anti macetnya dicabut. Pihak pertama makin nyecer, gimana pun mau berubah, katanya butuh power besar pemerintah, ya pemerintahnya pun nggak sadar kalo mereka harusnya melayani rakyat, kenapa juga jadi rakyat doang yang macet-macet sendiri??

Menurut saya, namanya juga pendapat kan ya, semua punya hak untuk punya pendapat masing-masing. Sampe sini saya masih nggak ikutan, cuma jadi moderator aja. Menjelaskan maksud pihak pertama ke pihak kedua dan sebaliknya yang suka ga nyampe dan salah arti karna keasikan debat.

Intinya mah dari awal sudut pandang dua pihak udah beda. Kalo pihak pertama, pengen berusaha apapun hasilnya, pokoknya usaha aja dulu. Sedangkan pihak kedua ga mau buang-buang waktu buat sesuatu yang ga bakal ada hasilnya.
Sampaii…
Setelah saya coba jelasin ke pihak kedua kalo ini masalah sudut pandang, pihak kedua bilang “Liat aja, sepuluh tahun lagi juga lo nyerah.”
WAH,
Wah, ga bisa gitu. I’m ALL about free speech rights, tapi ini sih namanya udah offence. Soalnya saya sebagai orang-orang yang ingin berusaha, merasa diserang sama kalimatnya itu. Merasa dijatuhkan, dengan pandangan dia yang bilang kalau saya nggak mampu, keadaan nggak akan membantu dan ga akan berubah jadi saya nggak usah buang-buang waktu. Mending cari hal lain untuk dikerjakan. Itu yang saya tangkap dari kalimatnya. Itu namanya pelecehan atas mimpi dan cita-cita. Nggak ada orang yang berhak atas itu! Nggak ada orang yang berhak bilang kalau cita-cita seseorang itu nggak berarti. Dan jangan dengar kalo ada yang bilang kaya gitu!

Intensitas perdebatannya makin naik soalnya nambah tiga orang yang ikutan debat gara-gara kalimat tadi. Mungkin kaya saya, merasa ga terima dibilang ga mampu dan disuruh menyerah sama keadaan. Seru banget deh, mas-mas di the kiosk sampe merhatiin semua, hihi. Debatnya berakhir waktu akhirnya disimpulkan kalau value of life yang masing-masing kita pegang beda. Akhirnya disetujui kalau bagaimanapun kita punya pendapat sendiri-sendiri, sama-sama belajar dari pendapat yang lain aja.

Tapi waktu pulang, perdebatan hari ini teringat terus. Saya merasa dihina, dianggap nggak mampu. Saya merasa ditantang, untuk membuktikan omongan saya. Bahwa 10 tahun lagi saya akan tetap berusaha. Saya tulis disini, untuk mengingatkan saya. Supaya saya gengsi, jangan sampe kemakan omongan sendiri yang bisa dibaca seluruh dunia.

Tiga teman saya yang sepaham, dan dua lagi yang nggak sepaham, mari bertemu lagi 10 tahun lagi. Mari berkumpul dan berdebat seperti ini lagi.
:)

0 ripples and bubbles:

This is my pensieve...
(is it pensieve or pensive?? You know.., memory holder thingie in Harry Potter??) So this is where I spill everything that cross my mind. Could be important, or simply crap. Whatever..

Firework Play

Firework Play
here's my wings!!

About Me

| genetically skinny | coldhearted (if-not-heartless) bitch | never aspiring to be the hero, rather be the strategist behind the hero | dislike drama in any form | a spitting image of my brave and strong dad, with a touch of my wise mom, which makes me perfect, HAHAH.

yes you can...

Blog Archive