Saturday, March 08, 2008

New Experiences Comin' Up

Hari minggu, akhirnya gw (dan angkatan gw) bakal berangkat ke Ciamis!
Ngapain?
Studio doong!!!
Apa tuh studio?
Kalo di plano...studio itu kaya kuliah aplikasi dari mata kuliah-mata kuliah yang udah pernah diambil. Kan Planolog nantinya bakal merencanakan, jadi sekarang latian dulu. Nah, biar mantep latiannya, kita survey primer ke lapangan juga. Seminggu! Wheee....asik kaaannn!!

Studio kota kemaren ke Pangandaran.

Nginep di wisma pinggir pantai, tiap hari main air, minum kelapa, dan main sepeda.
Waaaaaa...menyenangkaannn!! Apalagi ga ada dosen. Udahlah kaya liburan aja. Idup seminggu sama temen kuliah lo, dari melek sampe merem lagi. Ketauan deh muka-muka bangun tidurnya, baju tidurnya, kebiasaan-kebiasaannya....Wahah! Seru!


Nah, semester kemaren kita sempet minta studio wilayahnya ke luar jawa. Kemana kek...luar jawa pokoknya. Yah...luar Jawa Barat juga boleh...BOSENN. Tapi sayang sekali...prodi gak punya duit. Jadinya kita ke Ciamis aja deh. Karena ini studio wilayah, jadinya satu angkatan ngerjain wilayah yang sama. Fokusnya satu, cuma dibagi-bagi...Utara, Tengah, Selatan.

Utara wilayah pemerintahan
Tengah wilayah pertanian
Selatan wilayah pariwisata

Gw dapet bagian tengah,
Yang kalo dari data sihh...banyak lahan kosong, banyak lahan pertanian, terus penduduknya dikit...waahahaha! Abis itu kalo studio wilayah kita nginepnya dirumah-rumah penduduk. Walaupun kita nggak di kota kaya studio utara, atau tempat wisata kaya studio selatan, kayanya yang tengah juga bakal seru...DESA BANGET! Anak kota main ke desa...pasti seru. Jadi ga sabar...

The Team, by Ipeh.

Sebenernya kita persiapan teknisnya cuma 5 hari...buru-buru banget! Takutnya ada yang miss persiapannya. Tapi kalo nggak minggu ini, nggak bakal ada waktu lagi. Para dosen juga pengen ngetes dulu kita udah siap belum buat berangkat? Jadilah lima hari kemaren seangkatan tensinya tinggi. Repot, heboh, yang mo nyolong nonton java jazz batal, persembahan wisuda ga total, wisuda nggak nonton...fuhh!! Untungnya kerja keras itu terbalas, kita jadi berangkat hari Minggu!!!

diskusi HOT! hahahh...5 jam boo!! sampe sepii....

sadar kamera tapinya...teteppp!

Doakan sajalah kami kembali ke Bandung dengan selamat minggu depannya. Data yang perlu dapet. DAN tugas yang ketumpuk bisa beres (soalnya dosen lain ga peduli kita keluar kota apa nggak, ga ada toleransi waktu!).
Repeat after me : AMIINNN....
:)


OHIYA!
Hot Career in The Future by GoGirl! Magazine Edisi Maret 08.
PLANOLOG!!
HAHAH. Baca tuuu...bacaa...jadi lain kali kalo ntar gw bilang jurusan gw Planologi, jangan pada bilang "Ihh...ngapain tuh?" atau "Jurusan apa tuh? Buat ngeramal zodiak gitu ya ntarnya?"
IIhhh...Penting tau...demi keberlangsungan peradaban manusia!

Sunday, January 13, 2008

Braga Weig

Bulan lalu, gw sempet dateng ke Braga City Walk. Braga City Walk ini mall yang ada di jalan Braga. Iya...Braganya Bandung yang terkenal itu. Ada mall disitu??
Ada, mall kecil yang biasanya sepi...

Tapi terakhir kali gw dateng...Pangling sama mall yang ini. Biasanya sepiiiiiiiiiiii....krik krik kraus kraus! Tapi sekarang kok rame banget? Ada apa???

Ternyata ada toko baru. Lebih tepatnya supermarket baru.
Carrefour.

Mundur setahun...
Waktu tahun kedua, kelompok gw milih Braga buat dijadiin objek studi buat kuliah teknik presentasi. Disitu kami harus milih lokasi, cari masalahnya, dan bagaimana solusinya, lalu mempresentasikannya.
Waktu itu sampe mabok deh liat Braga, saking seringnya survey! Waktu survey, kami menemukan beberapa masalah, yang intinya adalah...Braga yang dulunya kawasan perdagangan dan tempatnya anak muda nongkrong sudah kehilangan pesonanya. Kalah sama mall-mall. Toko-tokonya banyak yang tutup. Di sepanjang Braga banyak bangunan kosong. Bahkan beberapa ada yang rusak parah. Braga tampak mati. Apalagi kalo siang hari. Sayang sekali. Padahal Braga termasuk kawasan historis. Dan sayang keantikannya yang indah ini dibiarin melapuk...Dan legenda kehebatannya dibiarkan memudar.

Katanya...
Sengaja dibangun Braga City Walk untuk menarik orang-orang untuk datang ke Braga lagi. Tapi ternyata BCW nggak punya pull factor yang kuat. Apalagi akses ke Braga memang agak sulit kalau nggak pake kendaraan pribadi.

Waktu itu kami memberi solusi Braga direnovasi.
Dan dijadikan shopping street tanpa merubah bentuk bangunan. Dibangun tempat parkir besar bertingkat juga untuk menampung kendaraan, tapi Jalan Braga ditutup. Jadi orang-orang bisa santai belanja, jalan-jalan dan duduk-duduk, menikmati suasana antiknya Braga. Ahh...pasti keren banget tuh...

Tapi rencana kami ini nggak bisa tercapai kalau Braga belum memiliki daya tarik. Nggak ada yang bersedia membuka toko di Braga, atau nggak ada yang tertarik mendatangi toko-toko yang ada di Braga. Braga butuh pull factor dulu. Untuk memperlihatkan bahwa ia memiliki nilai investasi.

NAH.
Sekarang ada pull factornya.
Carrefour.
Berarti sekarang Braga sudah ramai, semoga setelah itu banyak investor yang mau berinvestas di Braga.
Rencana kami untuk bisa lihat Braga hidup lagi bisa terlaksana...horeee!!
Yaaaayyyy!!!

TAPI...
Gw cemas juga sama Carrefour ini.
Takut sama perkembangan wilayah Braga beberapa tahun lagi karena Carrefour. Sebenarnya gw nggak setuju ada supermarket super besar super lengkap super murah di tengah kota. Supermarket grosir harusnya ada di pojok-pojok kota...supaya susah dijangkau, biar dateng kesana emang kalau butuh belanja grosir. Kalau nggak salah, konsep aslinya memang begitu. Di Paris aja Carrefour jauh beneeerrrrrrrr, luar kota itungannya. Males kesana kalo nggak butuh-butuh amat.

Cuma di Indonesia supermarket besar murah macem gitu malah ditaro tengah kota banyak-banyak, biar semua untung. Semua kaya. Dari pejabat pemerintah, kontraktor, sampe pemilik. Yang rugi lagi-lagi rakyat kecil. Tapi apa ada yang peduli??
Nggak tuh.

Harusnya Carrefour dibangun di Gedebage sana. Kan katanya mau dijadiin PKW II.
*PKW=Pusat Kegiatan Wilayah
Selain itu, diperhatiin parkir BCW juga udah sesak.
Takutnya nggak mampu menampung dan malah merambah ke jalan-jalan yang akhirnya bikin macet.

Yang paling kepikiran sama gw,
Braga yang antik dibabat buat perluasan Braga City Walk. Nggak tau gw parno aja apa gimana, tapi takutnya.....
Karena semakin ramai, investor jadi banyak yang tertarik tuh, tapi nggak tertarik untuk menggunakan pertokoan Braga yang antik. Soalnya bentuk Braga yang antik itu ruko, yang biaya investasinya lebih mahal kalau disewa atau dibeli satu-satu. Kalo diborong trus dirubah jadi mall sama BCW bisa lebih murah kan jatohnya. Takutnya, para investor nggak memasukkan nilai historis sebagai nilai lebih Braga. Atau menganggap, nilai historis ini nggak worth. Biasanya kan begitu. Meraup untung sebesar-besarnya untuk diri sendiri dengan usaha yang sedikit. Karena di negara kita ini, hal paling nggak masuk akal bisa terjadi. Karena negara ini surganya orang serakah berduit.

Gw sih lebih pengen distro-distro aja yang pindah ke Braga semua. Toko-toko kosong di Braga diisi sama mereka aja. Distro-distro itu kan hasil karya asli Indonesia, abis itu nggak kalah keren sama merek luar. Beneran deh, sumpah. Lebih murah pula. Apalagi orang kalo ke Bandung, kalo nggak ke FO ya ke distro. Lumayan kan kalo dipindah ke Braga, Bandung jadi nggak berat di Dago. Menurut gw cocok tuh ditempatin di Braga...tiap distro punya satu ruko. Luarnya tetep antik...tapi dalemnya hip, disesuain sama karaker si distro. Jadi kita bisa jalan-jalan di suasana vintage, sambil belanja barang-barang modern. Kaya Paris. Kan Bandung memang Paris Van Java...

Ahh...sudahlah, cuma mau mengeluarkan isi otak.


Thursday, December 13, 2007

You're NOT That Smart, You know...

Dapet dari milis Apres....lucu...cobain yah!
Trus kasi tau gw hasilnya!
Gw salah tiga!! ANCOL!! Makin terbuktilah ketololan gw....
Beneran yah...kasi tau gw...
Pengen tau gw setolol apa...
ya ya ya?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di bawah ini ada empat ( 4 ) pertanyaan dan satu pertanyaan bonus.
Jawablah semua tanpa banyak pikir. Cuma boleh berpikir sedetik, jawab
segera. OK?

Ayo cari tahu, seberapa pintar anda... .
Siap? GO!!! (gulung layar)

Pertanyaan pertama:
Anda ikut berlomba. Anda menyalip orang di posisi nomor dua.
Sekarang posisi anda nomor berapa?

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jawaban: Jika anda menjawab Nomor Satu, anda SALAH BESAR! Jika anda
menyalip orang nomor dua, sekarang andalah yang ada di posisi nomor
dua!

Jangan ngaco lagi, ya?.
Sekarang jawab pertanyaan kedua,
tapi jangan berpikir lebih banyak daripada ketika menjawab pertanyaan
pertama tadi,OK ?

Pertanyaan Kedua:
Jika anda menyalip orang di posisi terakhir, sekarang anda di
posisi...?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jawaban: Jika anda menjawab anda orang kedua dari terakhir, anda
SALAH LAGI... Coba, bagaimana caranya menyalip orang TERAKHIR?

Anda sebetulnya tidak terlalu pintar, ' kan?

Pertanyaan ketiga:
Hitung-hitungan yang pelik! Catatan: kerjakan di pikiran anda saja.
JANGAN gunakan kertas atau pensil atau kalkulator. Cobalah.

Ambil 1000 dan tambahkan 40 padanya. Sekarang tambahkan 1000 lagi.
Sekarang tambahkan 30 . !
Tambahkan 1000 lagi<> . Sekarang tambahkan 20. Sekarang tambahkan
1000
Sekarang tambahkan 10 . Berapa totalnya?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apakah hasilnya 5000 ?

Jawaban yang benar adalah 4100.

Kalau tidak percaya, cek dengan kalkulator!
Hari apes, ' kan?
Mungkin di pertanyaan terakhir anda bisa benar...
....Mungkin.

Pertanyaan keempat:
Ayah Mary punya lima anak: 1. Nana, 2. Nene, 3. Nini,
4. Nono. Siapa nama anak kelima?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Apa anda menjawab Nunu?
BUKAN! Tentu saja bukan.
Anak kelima namanya Mary. Baca lagi pertanyaannya!

Okay, sekarang ronde bonus:

SEORANG bisu pergi ke toko dan ingin membeli sikat gigi. Dengan
menirukan orang menggosok gigi, ia berhasil menyampaikan keinginannya
pada penjaga toko dan ia berhasil membeli sikat gigi...
Berikutnya, seorang buta masuk ke toko itu dan ingin membeli kacamata
hitam, bagaimana DIA menunjukkan keinginannya?
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Langsung aja ngomong, dia kan gak bisu...

UAS dan Metodanya

Sebentar lagi UAS…
WAAAAAA…
Daripada panik sendiri, mending gausah diinget-inget dulu deh soal IP.

Namanya juga ujian…artinya diuji. Diuji dengan menjawab pertanyaan. Lalu dinilai berdasarkan jawaban atas pertanyaan.

Biasanya dosen-dosen bilang
”jawabnya jangan panjang lebar, tapi poinnnya aja, yang singkat tapi jelas!”
Atau malah
”jelaskan sejelas-jelasnya...”

Kalimat pertama ini cuma berlaku buat sedikit dosen...Oh...sori ralat...SATU dosen. Sedangkan dosen lainnya menganut paham ”makin panjang makin bagus”. Biasa deh PL....Panjang Lebar...Biar dapet nilai bagus, pasti kita jadi nulis sejelas-jelas mungkin (tanpa keluar dari apa yang ditanyain dong pastinya). Dan kebetulan juga...jurusan gw itu banyak teori juga pendapatnya (Kek IPS ya sebenernya, tapi Teknik??). Jadi kalo ujian emang pasti essay.

Duuuh...Sebenernya lo mo ngomong apa sih Ra daritadi??

Gini, tesnya kan seperti biasa... Pake kertas, dan ditulis pake ballpen. Dan ballpen tersebut digerakkan oleh tangan. Tangan yang sebenernya punya keterbatasan dalam ketahanannya menulis!!! Tiap UTS/UAS nih ya...tangan tuh langsung sakit-sakit....Dan seriusan sakit loh...pegel nulis terus! Dua jam non-stop!!!! Pernah gw ujian sehari dua kali dan cuma selang stengah jam. Sumpah ya abis itu tangan gw langsung kram!! (Dan nilai UTSnya ga kluar, jadi ga ketauan pengorbanan tangan gw berbuah apa ngga)

Pengen mengusulkan deh...Gimana kalau ujian jangan pake kertas dan ballpen lagi?
Tapi pake Microsoft Word aja!!! Kalo diliat-liat udah hampir semua orang punya laptop. Yang ga punya pake laptop bisa di labscan…atau minjem juga bisa. Kan lebih enak pake word…Nulisnya ga mesti urut, yang keingetan bisa ditulis dulu, ntar kalo mau dtambah-tambahin bisa disempil-sempil sesuka hati. Hemat waktu nge-tipeks!! Dan yang lebih penting, TANGAN GA PEGELL!!!

Soal nyontek, gampang Pak, Bu...Jaganya di belakang. Dosen, asisten dua, duduk di belakang. Dijamin deh ga ada yang berani nyontek! (Asal situ juga nggak meleng!)

Hasil ujian bisa dikumpulin di flashdisk, Bentuknya softcopy, ga usah takut ilang. Ga ribet banyak kertas, jadi ga nyampah. Dan hemat kertas juga kan??!!!

Weh...ti dulu...ko jadi beneran yah ni?? Tadi niatnya padahal cuma mo ngeluh aja...Tapi kayanya memungkinkan...Eh, memungkinkan ga sih?? Kalo memungkinkan usulin aja yokkk!! Kan departemen rapat tuh tiap semester...

Hmmm....udah ah, mau mengumpulkan massa dulu...

Tuesday, November 20, 2007

Pertanyaan-Pertanyaan Ga Penting Tapi Kepikiran

  1. Apa sih kepanjangan dari CMIIW, sama LMAO??? Penasaran banget sumpah!
  2. Apakah merek rokok Wismilak berasal dari kata-kata Wish Me Luck?
  3. Dimana bisa beli kastengel enak di Bandung walaupun ga mau lebaran dengan harga reasonable?
  4. Kenapa sih mesti ada penyakit insomnia???
  5. Kok abang gorengan yang di gerbang belakang rasanya bisa enak banget yah?
  6. Zodiak, tes psikotes, tes NGT, tes binatang, tes elemen, semua mengatakan hal yang sama tentang gw tapi gw banyak ga merasanya? Salah disebelah mana?
  7. Kok nggak banyak yang suka Star Wars sih? Padahal kan keren banget!
  8. Kok banyak banget yang mirip gw? Dudi, Lara, Uti, Chane, Lara lagi, tapi gw ga merasa mirip secuil pun????
  9. Kok bisa ada orang yang mikir orang asia bisa ngontrol tsunami?? Kalo beneran bisa ya nggak asia dong korbannya? Tolol!!
  10. Kenapa istilah buat cowok ganteng bwangett itu ‘as handsome as sin’?? Apa hubungannya ganteng sama dosa??
  11. Kenapa sih orang yang suka nutup account FSnya (ga bisa diliat dan di message selain temennya) suka liat-liat account orang?? Kalo ga mau diliat-liat sama orang, ya jangan liat-liat profil orang lain juga dong! Kan gw jadi ga bisa liat lo tuh siapa…huhh :(

Answers, anyone??
Iya...gw tau…ga penting.
People usually said “why bother? It doesn’t matter!”
Well…it DOES bother me, so it DOES matter…
Yet, it still stupid.
I hate myself…

Friday, November 09, 2007

Apartement dan Housing as a verb....

Jakarta dan Bandung, dua kota besar di Indonesia. Penduduknya makin banyak dari tahun ke tahun, ada yang dateng untuk cari kerja, ada yang sekolah, ada yang ikut keluarga atau suami/istri, atau alasan-alasan lainnya (apa yah?). Mereka pastinya butuh tempat tinggal, dan dengan bertambahnya penduduk maka infrastruktur dan pelayanan kota harus sanggup melayani pertambahan penduduk tersebut. Padahal tanahnya sendiri, tempat semua itu bakal dibangun, nggak bertambah.

Dalam hal perumahan, harusnya mulai banyak perumahan vertikal, atau bertingkat. Karena semua mau tinggal di kota, padahalnya lahannya terbatas. Tapi kenapa disaat tanah itu barang langka, harga apartemen masih lebih mahal daripada harga rumah?? Padahal logikanya, orang yang mau punya rumah harusnya bayar lebih mahal karena tanah yang dia mau bangun sebenernya bisa lebih guna kalo dijadiin apartemen yang bisa dipake sama berpuluh-puluh keluarga.

Jadi penasaran, apa memang bangun apartemen itu lebih mahal daripada bangun perumahan? Soalnya kemaren dapet tugas yang intinya kita ceritanya jadi developer. Seinget gw sih yang paling mahal biaya yang berurusan sama lahan. Jadi sebenernya kalo dengan lahan 4 rumah yang beli bisa 70 keluarga, harusnya harganya bisa lebih murah kan? Harusnya pembangunan rumah susun sederhana, apartemen murah bisa marak. Trus kenapa nggak dong?

Nah, waktu studio proses semester lalu...bahasannya perumahan juga. Waktu ditanya ke yang tinggal di tempat kumuh, daripada direlokasi ke tempat yang jauh, mau nggak dibikinin rumah susun? Ternyata banyak yang bilang nggak mau. Yang bagus sekalipun. Kenapa? Karena nggak napak tanah, sempit, dan nggak bisa diagunin/bukan hak milik. Tapi direlokasi di tempat yang jauh pun nggak mau.

Yang terakhir ini bikin bingung. Soalnya menurut teori, harusnya orang miskin saat harus memilih punya tempat tinggal atau kepemilikan, mereka pasti milih punya tempat tinggal. Harusnya (menurut teori sih), mereka nggak akan nerima tempat tinggal hak milik kalau jauh dari tempat kerja mereka. Karena costnya nanti lebih besar lagi untuk transport. Hebat banget kan orang miskin kita? Udah dipikirin, biar mereka ga usah pindah keujung dunia, bisa tetep kerja ditengah kota, tapi ga mau. Maunya dikasih rumah tengah kota. Ampuuunnn...!!!

Nah, gw ngga tau nih apakah budaya ‘kalo ngga mijak tanah bukan rumah namanya’ ini berlaku juga dikalangan menengah. Belum survey. Tapi kalo memang iya, ya mungkin ini penyebabnya kenapa model perumahan vertikal ga populer di Indonesia. Banyak sih apartemen di Jakarta, di Bandung juga ada beberapa. Tapi bukan yang menengah kebawah. Menengah keatas semua. Mungkin budaya ‘kalo nggak mijak tanah bukan rumah namanya’ ini nggak berlaku buat kalangan atas karena mereka biasa keluar negri atau kenapalah. Jadi pasarnya memang kalangan menengah keatas.

Atau bisa juga karena perbedaan pengertian. Ada yang namanya housing as a noun, sama housing as a verb. Housing as a noun itu perumahan/rumah dilihat sebagai benda, objek, untuk menunjukkan status. Sedangkan kalo housing as a verb itu artinya ber-rumah. Maksudnya membangun rumah atau keluarga, sebagai tempat berteduh, tempat berpulang (Hohohh...gaya baru blajar...). Orang Indo mungkin melihat rumah sebagai sekedar objek. Jadinya kita melihatnya sebagai house, bukan home. Bukan yang penting adalah keluarganya, tapi bentuk rumahnya. Ngerti ga maksud gw?

Ya kalo pola pikir ini diterusin, bisa repot. Kalo mau tinggal di kota, ya harus mau tinggal di perumahan vertikal. Cepat atau lambat. Kalo nggak mau ya pindah aja ke Kalimantan, Papua, masih kosong kan tuh. Tapi jawabannya pasti “Disana ada apa coba?”. Yeeuhh...